Mungkin hanya islam yang memerintahkan beribadah wajib 5 waktu dalam sehari. Kalo melihat sejarah, bahwa perintah sholat yang sekarang ini adalah hasil negosiasi yang cukup panjang oleh nabi Muhammad SAW, sampai akhirnya Allah memberikan keringanan yang menurut saya pribadi harusnya sudah sangat ringan. Tapi, tetap saja sholat kita jarang genap alias bolong – bolong, ya kan?

Saya tidak membahas sholat seperti ulama atau guru agama yang sudah pasti kalian semua mengetahuinya.

Ada perjalanan dan sudut pandang produktifitas sampai saya menuliskan judul di atas, yaitu mindfulness.

Menurut saya, sholat yang khusyuk itu sholat yang dilakukan secara sadar atau mindful, maksudnya kita benar – benar sadar gerakan dan apa yang kita ucapkan selama sholat sambil menggetarkan hati kita untuk bersujud, menyembah, berpasrah, bersyukur dan menyakini segala keagunganNya.

Ketika kita melakukannya secara sadar, setiap nafas, anggota tubuh yang digerakan, doa yang kita ucapkan, sebenarnya kita sedang menikmati waktu yang sekarang atau kamu sadar berada di waktu sekarang, pikiran kita tidak memikirkan hal lain selain kesadaran dalam sholat tersebut.

Saya sendiri masih sulit mempraktekannya, karena mengontrol pikiran kita untuk fokus dalam sholat ini sulit dilakukan, dan makannya kita sholat 5 waktu itu kita diberi kesempatan untuk melatihnya.

Kita sudah terlalu larut dalam dunia, sholat ini adalah bentuk aktifitas jeda untuk kembali dalam diri kita, merasakan waktu saat ini juga. Bukan memikirkan masa depan, seperti nanti makan apa, nanti ketemu siapa, nanti harus melakukan apa, habis ini aku harus melakukan ini itu, STOP!

Ketika kita suntuk dengan yang terjadi di dunia, saat itulah kita harus berhenti dan kembali, dengan melakukan sholat tepat waktu (menyegerakan), dan dengan memperbaiki cara kita sholat, dimana secara tidak langsung kita sedang memperbaiki kehidupan kita, agar lebih bahagia dengan berada di waktu sekarang.

Kebahagiaan itu ada di waktu sekarang, bukan di masa lalu ataupun di masa depan yang belum terjadi (jangan repot – repot memikirkan sesuatu yang belum terjadi) – bukan berarti kita tidak boleh merencanakan hidup.

Salam,
Bagus Prakoso